Thursday, February 10, 2011

Capital Budgeting Decision Process

Ada 7 metode yang digunakan untuk menganalisa project sehingga pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan apakah suatu proyek diterima atau ditolak, adapun metode yang digunakan adalah sebagai berikut :

1. Payback
2. Discounted Payback
3. Net Present Value (NPV)
4. Internal rate of return (IRR)
5. Modified Internal rate of return (MIRR)
6. Profitability Index
7. Accounting rate of return

Namun kadang kala analisis proyek dengan 7 metode tersebut belum cukup yang mana pada akhirnya manager harus bisa mempertimbangkan option-option didalam memilih ataupun pada saat menjalankan project karena misalnya adanya perubahan aturan, persaingan dan hal lainnya yang mengakibatkan seorang manager memilih option tertentu sehingga project tersebut tetap memberikan value untuk perusahaan, hal ini seperti biasa dikatakan sebagai real options.
Proses pelaksanaan proyek analisis dalam capital budgeting adalah sebagai berikut :
1. Melakukan perkiraan cash flow yang relevan (outflow and inflow)
2. Menilai resiko dari cashflow. Resiko project dapat diukur dengan menggunakan payback period karena dapat digunakan menilai project liquidity.
3. Menentukan expected return (r) project berdasarkan Weighted Average Cost of Capital (WACC)
4. Melakukan evaluasi cash flow untuk melihat apakah cash flow project tersebut reasonable.
5. Melakukan analisa project menggunakan metode analisis capital budgeting yang digunakan perusahaan.

Payback Period
Payback period adalah lama periode dalam tahun yang diharapkan untuk mendapatkan kembali biaya investasi yang telah dikeluarkan untuk suatu project. Payback period adalah metode formal pertama yang digunakan di financial untuk mengevaluasi capital budgeting.
Payback = Year before full recovery +(Unrecovered cost at start of year / Cash flow during year)
Semakin cepat payback period maka akan semakin baik project tersebut.
Kelebihan Payback period adalah :
- Mudah dimengerti.
- Memberikan informasi mengenai lamanya break even project.
- Bisa dijadikan indicator resiko project yang mana semakin lama payback period maka semakin beresiko project tersebut.
Kekurangan Payback period adalah :
- Tidak mempertimbangkan cost of capital
- Tidak memberikan informasi mengenai tambahan value untuk perusahaan
- Tidak mempertimbangkan cash flow yang keluar atau masuk setelah payback period
- Tidak memberikan informasi mengenai return suatu project dalam percentage.

Discounted Payback Period
Discounted Payback period adalah hampir sama dengan payback period namun dalam perhitungannya memperhitungkan cost of capital sebagai discounted. Sehingga discounted payback period adalah adalah lama periode dalam tahun yang diharapkan untuk mendapatkan kembali biaya investasi yang telah dikeluarkan untuk suatu project dari discounted net cash flows. Discounted payback period adalah revisi dari payback period yang tidak mempertimbangkan cost of capital. Baik payback period atau discounted payback period sering digunakan sebagai indicator untuk project riskiness.
Kelebihan Discounted Payback period adalah :
- Mudah dimengerti.
- Memberikan informasi mengenai lamanya break even project.
- Bisa dijadikan indicator resiko project yang mana semakin lama payback period maka semakin beresiko project tersebut.
- Sudah mempertimbangkan cost of capital
Kekurangan Discounted Payback period adalah :
- Tidak memberikan informasi mengenai tambahan value untuk perusahaan
- Tidak mempertimbangkan cash flow yang keluar atau masuk setelah payback period
- Tidak memberikan informasi mengenai return suatu project dalam percentage.

NPV
Karena beberapa kekurangan dari payback period dan discounted period sehingga orang mencari metode yang lain yang meningkaykan efektivitas evaluasi project. Satu metode yang digunakan adalah net present value (NPV) yang sejalan dengan discounted cash flow. NPV adalah penjumlahan total present value dari cash flow project yang diharapkan di masa yang akan datang (baik masuk dan keluar), yang mana cash flow tersebut telah discounted sesuai dengan cost of capital. NPV adalah ukuran langsung dari nilai return project kepada stockholder.





Dimana
CF = Cash Flow
r = rate of return
t = the time of the cash flow
Jika hasil perhitungan NPV adalah positif maka project tersebut diterima sedangkan apabila negative maka project tersebut harus ditolak. Dan apabila ada 2 project yang mutually exclusive dan NPV yang positif maka project yang diterima yang mempunyai NPV paling besar.
Kelebihan NPV adalah :
- Memberikan informasi mengenai tambahan value untuk perusahaan
- Sudah mempertimbangkan cost of capital
- Sudah mempertimbangkan time value of money
- Mempertimbankan semua cash flow
Kekurangan NPV adalah :
- Tidak memberikan informasi mengenai return suatu project dalam percentage.
- Dibutuhkan cost of capital untuk menghitung NPV

IRR
Internal rate of return (IRR) adalah discount rate yang disamakan dengan present value dari future cash keluar dan masuk yang diharapkan. IRR mengukur return rate atas project, tetapi mengasumsikan bahwa semua cash flow dapat diinvestasikan kembali pada IRR rate.
PV (Inflows) = PV (Investment costs)





Adapun pejelasan logis dari IRR adalah :
1. IRR Project adalah expected rate of return
2. Jika internal rate of return (IRR) melewati cost of capital project tersebut maka sisanya akan menjadi tambahan untuk menambah kekayaan untuk stockholder
Sehingga apabila IRR > WACC maka project harus diterima sedangkan apabila IRR WACC maka project yang diterima yang mempunyai IRR paling besar.
Kelebihan IRR adalah :
- Memberikan informasi mengenai tambahan value untuk perusahaan dalam bentuk percentage
- Sudah mempertimbangkan cost of capital
- Sudah mempertimbangkan time value of money
- Mempertimbankan semua cash flow
Kekurangan IRR adalah :
- Tidak memberikan informasi mengenai return suatu project dalam bentuk jumlah uang.
- Dibutuhkan cost of capital untuk menghitung IRR.
- Mungkin tidak memberikan keputusan yang memaksimalkan value perusahaan ketika digunakan untuk membandingkan proyek yang mutually exclusive.
- Mungkin tidak memberikan keputusan yang memaksimalkan value perusahaan saat digunakan untuk memilih proyek bila berhubungan dengan capital rationing
- Tidak bisa digunakan dalam situasi di mana project mempunyai cash flow yang berubah misalnya dari positif ke negative.

MIRR
Sehubungan dengan sangat popularnya penggunaan IRR untuk analisa kelayakan project dan karena adanya kekurangan IRR untuk menghitung project yang mempunyai non normal cash flows (multiple IRR ) sehingga muncullah modified IRR yang memberikan hasil perhitungan yang lebih valid. Modified internal rate of return (MIRR) mengasumsikan bahwa cash flows dari semua project akan dapat diinvestasikan kembali pada cost of capital yang berlawanan dengan IRR project itu sendiri. Hal ini membuat modified internal rate of return memberikan indicator yang lebih valid untuk profitability.












Sama dengan IRR apabila MIRR > WACC maka project harus diterima sedangkan apabila MIRR WACC maka project yang diterima yang mempunyai MIRR paling besar.
Kelebihan MIRR adalah :
- Memberikan informasi mengenai tambahan value untuk perusahaan dalam bentuk percentage
- Sudah mempertimbangkan cost of capital
- Sudah mempertimbangkan time value of money
- Mempertimbankan semua cash flow
- Memperbaiki kekurangan IRR yang tidak bisa digunakan untuk project yang mempunyai cash flow yang berubah
Kekurangan MIRR adalah :
- Tidak memberikan informasi mengenai return suatu project dalam bentuk jumlah uang.
- Dibutuhkan cost of capital untuk menghitung MIRR.
- Mungkin tidak memberikan keputusan yang memaksimalkan value perusahaan ketika digunakan untuk membandingkan proyek yang mutually exclusive.
- Mungkin tidak memberikan keputusan yang memaksimalkan value perusahaan saat digunakan untuk memilih proyek bila berhubungan dengan capital rationing

Profitability Index
Profitability index dapat dihitung dengan membagi PV of future cash flows project dengan biaya awal. Project akan diterima apabila mempunyai profitability index lebih besar dari 1dan nilai tersebut similar dengan NPV positif.
Kelebihan Profitability Index adalah :
- Memberikan percentage future cash flows dengan cash initial
- Sudah mempertimbangkan cost of capital
- Sudah mempertimbangkan time value of money
- Mempertimbankan semua cash flow
Kekurangan Profitability Index adalah :
- Tidak memberikan informasi mengenai return suatu project.
- Dibutuhkan cost of capital untuk menghitung Profitability Index.
- Tidak memberikan informasi mengenai project risk.
- Susah dimengerti untuk dijadikan indicator apakah suatu project memberikan value kepada perusahaan.

Accounting rate of return (ARR)
ARR adalah rasio financial yang digunakan dalam capital budgeting. Rasio ini tidak mempertimbangkan mengenai time value of money. ARR dapat dikatakan sebagai persentase dari return yang dihasilkan capital investasi yang dilakukan. Project akan diterima apabila ARR lebih besar dari rate of return yang diharapkan.

ARR = Average Profit / Average Investment

Kelebihan ARR adalah :
- Memberikan informasi mengenai return suatu project yang mudah dimengerti
- Mempertimbangkan semua cash flow
Kekurangan ARR adalah :
- Tidak mempertimbangkan time value of money
- Tidak memberikan informasi mengenai project risk.

Written by Madces

Saturday, February 5, 2011

Individual Behavior

Individual behavior merupakan nilai kebiasaan dari manusia atau individu yang berbeda satu dengan yang lainnya, termasuk kemampuan dan skill, personality, persepsi pengalaman dan latar belakang. Setiap individu adalah unik sehingga diperlukan situational/contingency approach dalam menghadapi individu yang berbeda tersebut untuk menghasilkan individu yang loyal dan menghasilkan hasil yang optimal dalam perusahaan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengetahui individual differences adalah :
1. Observasi dan mengenali perbedaan-perbedaan
2. Mempelajari variabel yang mempengaruhi perilaku seseorang
3. Menemukan hubungan diantara variabel-variabel tersebut.

Kurt Lewin pada dasarnya mengusulkan bahwa perilaku karyawan (B) adalah fungsi dari individual behavior (I) dan environmental (E) variabel. Sehingga perilaku dalam pekerjaan adalah unik untuk setiap individu tapi pada proses dasarnya adalah sama untuk setiap individu. Setelah melakukan penelitian beberapa tahun kemudian Kurt Lewin mendefinisikan bahwa :
1. Perilaku adalah sebab akibat
2. Perilaku adalah tujuan langsung
3. Perilaku yang dapat diobservasi adalah terukur
4. Perilaku yang tidak dapat diobservasi secara langsung juga penting untuk pencapaian tujuan
5. Perilaku adalah motivasi

Perilaku karyawan menghasilkan outcomes organisasi yang bisa menjadi outcomes yang positif yaitu performansi jangka panjang yang baik dan kemampuan personal yang berkembang dan bisa sebaliknya yaitu performansi jangka panjang yang buruk dan terbatasnya pertumbuhan personal. Untuk jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini :


Abilities and Skill
Abilities merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan mental atau fisik sedangkan Skill berhubungan dengan tugas dan kompetensi. Kedua hal ini memegang peranan penting dalam individual behavior dan performance.

Demographic
Faktor demographic yang sangat penting adalah gender dan ras, cultural diversity juga dapat menjadi faktor yang berpengaruh untuk perusahaan multinasional yang beroperasi diberbagai negara. Yang menjadi pertanyaan apakah laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan perilaku, performance, gaya pemimpinan dan komitmen ditempat kerja. Seiring dengan meningkatnya emansipasi wanita dalam berbagai bidang maka isu gender sudah tidak lagi menjadi masalah karena baik dari perilaku dan performance antara laki-laki dan wanita sudah tidak mempunyai perbedaan yang signifikan.
Perbedaan ras dan cultural diversity adalah faktor demographic yang bisa mempengaruhi behavior dan dapat mengakibat salah persepsi, ketidak cocokan dan juga konflik. Adanya perbedaan cultural bisa mengakibat perbedaan mengenai :
 Hubungan manusia dengan alam
 Individual versus collective
 Time orientation
 Activity orientation (Result oriented versus process oriented)
 Degree of formality (Low Context versus High Context)
 Language
 Religion
Disamping itu latar belakang keluarga termasuk sosial ekonomi status kadang kala menjadi faktor yang bisa mempengaruhi individual behavior.

Attitudes
Attitude adalah kebiasaan yang dilakukan dalam pemenuhan kebutuhan dan merupakan determinasi dari behavior karena berhubungan dengan persepsi, personality serta motivasi.

Persepsi
Merupakan cara/proses individu menerima, mengolah dan member arti terhadap lingkungannya.
Didalam persepsi ini dikenal personal value yaitu :
1. Self concept
Merupakan konsepsi dari individual meliputi fisik, social, spiritual, ataupun moral. Konsep ini berlaku turun temurun terhadap diri seseorang, misalnya : Kalau makan tidak boleh sambil berdiri.
2. Stereo type
Merupakan generalisasi dari kondisi tertentu, misalnya : adanya persepsi bahwa orang padang itu pelik
3. Selective information
Menerima dan mencari informasi yang hanya menguntungkan bagi dirinya sendiri
4. Self esteem
Bagaimana individu mempersepsikan (menilai) dirinya sendiri dari berbagai faktor yang ada. Self esteem yang berbeda harus dimanfaatkan untuk mendorong performances.
Orang yang memiliki self esteem yang rendah adalah orang yang mempunyai persepsi negative terhadap dirinya. Individu seperti ini memiliki kesulitan berurusan dengan orang lain dan kurang percaya diri.
Sedangkan orang yang memiliki self esteem yang tinggi adalah orang yang mempunyai persepsi positif terhadap dirinya. Individu seperti ini harus dimanfaatkan dalam mencapai hasil kerja yang baik namun harus diingatkan juga agar tidak terlalu berlebihan karena bisa mengakibatkan kesalahan akibat kecerobohan karena percaya diri terlalu tinggi.
5. Self efficacy
Self efficacy adalah keyakinan bahwa seseorang bisa melakukan sesuatu yang baik dalam kondisi yang baik. Keyakinan ini biasanya bersifat positif dan berhubungan dengan self esteem. Orang yang mempunyai self esteem yang tinggi pada umumnya mempunyai self efficacy yang tinggi pula.
6. Locus of control
Bagaimana individu merasa apa yang dilaksanakan akibat dari control yang dilakukannya. Locus of control ini terbagi atas :
Internal locus of control
Keyakinan dari outcomes yang dikontrol dapat diarahkan pada faktor internal
External locus of control
Keyakinan dapat mengontrol faktor eksternal yang mempengaruhi behavior dari individu tersebut.
Written By Madces

Monday, January 31, 2011

Budaya Organisasi

Menurut Kreitner, Budaya organisasi adalah kumpulan bersama, diambil untuk memberikan asumsi implisit yang dijadikan pegangan oleh kelompok dan menentukan bagaimana mereka merasa, berpikir tentang dan bereaksi terhadap berbagai keadaan lingkungan.
Sedangkan menurut Gibson, Budaya organisasi adalah apa yang karyawan rasakan dan bagaimana persepsi mereka menghasilkan suatu bentuk kepercayaan, nilai dan harapan.
Budaya organisasi (Menurut Farrell, Hirt, & Ferrell) dapat diartikan pula adalah nilai, kepercayaan, tradisi, filosofi, peraturan, dan panutan untuk perilaku yang berlaku dalam suatu perusahaan. Dalam implementasinya budaya organisasi ini ada yang terlihat (Artifacts) dan ada yang tidak terlihat. Lebih jelasnya dapat dilihat digambar bawah ini :


Gambar berikut ini memperlihatkan mengenai A Conceptual Framework For Understanding Organizational Culture :


Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa budaya organisasi pada umumnya terbentuk dari nilai pemilik dan atau senior leader, culture suatu bangsa dan juga kondisi lingkungan dari bisnis industri tersebut. Budaya organisasi ini akan mempengaruhi bentuk organisasi dan penerapan system yang ada di organisasi itu. Selanjutnya akan menghasilkan group & social process yang menjadi acuan semua process didalam organisasi. Semua urutan mulai dari budaya organisasi, struktur organisasi termasuk penerapannya, kemudian group dan social process pada akhirnya akan berpengaruh kepada karyawan attitude dan behavior dan juga berbagai macam outcomes organisasi.

Suatu perusahaan yang mempunyai budaya organisasi yang baik akan menjadi pondasi yang sangat penting untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut. Salah satu perusahaan yang mempunyai budaya organisasi yang sangat terkenal adalah Toyota dengan Toyota Ways.

Sunday, January 23, 2011

Cost Of Capital

Dalam melakukan businessnya suatu perusahaan pasti akan melakukan capital budgeting, namun sebelum melakukan capital budgeting terlebih dahulu kita haraus mengetahui apakah itu sebenarnya capital sehingga perlu dilakukan capital budgeting. Apabila dihubungkan dengan teori ilmu ekonomi bahwa economics is the study of how society manages its scarce resources. Artinya bahwa dalam masyarakat mempunyai keterbatasan resource sehingga oleh karena itu maka masyarakat tidak akan bisa memproduksi barang atau jasa seperti yang mereka inginkan. Apabila kita identikkan masyarakat dengan perusahaan maka kondisi yang sama terjadi di perusahaan yang mana perusahaan mempunyai keterbatasan capital sehingga mereka harus bisa mengoptimalkan resource yang terbatas tersbut untuk mendapatkan profit.

Capital suatu perusahaan bisa didapatkan dari dana yang dimasukkan pemilik sebagai saham, surat utang ataupun pinjaman ke bank. Hal ini menyebabkan capital menjadi resource yang sangat terbatas. Dalam bisnis real, perusahaan pun memiliki keterbatasan mendapatkan pinjaman yang besar dari bank apabila tidak memiliki asset yang besar yang tentunya pinjaman tersebut harus dialokasikan pada alternatif investasi terbaik. Orang mungkin berpendapat bahwa sebuah perusahaan dapat mengeluarkan jumlah yang hampir tak terbatas dari saham biasa untuk meningkatkan modal. Peningkatan jumlah saham perusahaan hanya akan hanya berfungsi untuk mendistribusikan jumlah saham yang sama di antara sejumlah besar pemegang saham. Dengan kata lain, karena jumlah saham yang meningkat di perusahaan maka kepemilikan perusahaan untuk pemegang saham individu mungkin akan menurun secara proporsional.

Argumen yang mengatakan bahwa modal merupakan sumber daya terbatas adalah benar sekali walaupun dilihat dari setiap bentuk modal, apakah itu utang atau saham atau laba ditahan, hutang atau surat hutang, dan sebagainya. Bahkan perusahaan yang paling terkenal dalam suatu industri hanya dapat meningkatkan pinjaman sampai dengan batas tertentu. Setelah titik ini telah tercapai maka perusahaan tersebut akan ditolak kredit lebih atau kemungkinan akan dikenakan tingkat bunga yang lebih tinggi, sehingga membuat pinjaman menjadi kurang diminati untuk meningkatkan modal.

Cost of capital adalah return yang diharapkan terhadap biaya yang dikeluarkan dari dana perusahaan (baik debt dan saham). Hal ini digunakan untuk mengevaluasi setiap proyek baru perusahaan karena pengembalian minimum yang diharapkan oleh investor dalam memberikan modal kepada perusahaan harus sesuai dengan return yang diharapkan dari proyek tersebut. Suatu investasi dianggap bermanfaat apabila hasil yang diharapkan dari modal tersebut harus lebih besar dari biaya modal. Karena capital perusahann biasanya mencakup baik hutang dan ekuitas, oleh karena itu harus menghitung baik biaya hutang dan biaya ekuitas untuk menentukan cost of capital. Namun sekarang ini, kebanyakan manager lebih suka tingkat pengembalian lebih dari biaya modal.

Cost of Debt ini relatif sederhana untuk menghitung, karena terdiri dari tingkat bunga yang dibayarkan. Dalam prakteknya, suku bunga yang dibayarkan oleh perusahaan dapat dimodelkan sebagai risk free rate ditambah komponen risiko (risk premium) dengan formula interest = risk free rate + risk premium.

Cost of debt = rd(1 - T)

Dimana :
rd = Interest rate of debt
T = Tax savings

Cost of equity sebenarnya agak mirip dengan cost of debt, cost of equity secara luas didefinisikan sebagai return yang diproyeksikan menurut risiko yang dirasakan oleh para investor. Biaya ekuitas Oleh karena itu disimpulkan dengan membandingkan investasi untuk investasi lain (sebanding) dengan profil risiko yang sama untuk menentukan "pasar" biaya ekuitas. Hal ini sering disamakan dengan rumus CAPM (di bawah), meskipun artikel seperti Stulz 1995 mempertanyakan keabsahan menggunakan CAPM lokal dan internasional CAPM-juga mempertimbangkan apakah pasar sepenuhnya terintegrasi atau tersegmentasi (jika sepenuhnya terintegrasi, tidak perlu dianalisa CAPM lokal).

Cost of preferred stock = rp = Dp/Pn

Dimana :
rp = Expected return on preferred stock
Dp = Expected Dividend of preferred stock
Pn = Current Price of preferred stock

Cost of common stock = rs = D1/P0 + g

Dimana :
rs = Expected return
D1 = Expected Dividend
P0 = Current Price of Stock
g = expected growth

Setelah biaya hutang dan biaya ekuitas telah ditentukan, mereka campuran, weighted average cost of capital (WACC), dapat dihitung. WACC ini kemudian dapat digunakan sebagai tingkat diskonto untuk proyeksi sebuah proyek. Weighted Average Cost of Capital (WACC) digunakan dalam bidang keuangan untuk mengukur cost of capital perusahaan.

WACC = wdrd(1-T) + wprp + wcrs
Dimana :
wd = Weighted of debt capital
rd = the marginal cost of debt capital
T = Tax Rate
wp = Weighted of preferred stock
rp = the marginal cost of preferred stock, which is the return investors require on a firm’s preferred stock
wc = Weighted of common equity
rs = the marginal cost of common equity using retained earnings

Dihadapkan dengan cost of capital tersebut, maka manajemen suatu perusahaan harus lebih berhati-hati memutuskan apakah suatu proyek tertentu secara ekonomis dapat diterima untuk dijalankan. Dalam kasus apabila pilihan proyek lebih dari satu proyek maka manajemen harus mengidentifikasi proyek-proyek yang akan memberi kontribusi paling menguntungan dan juga akibatnya dengan nilai perusahaan.

Sunday, January 16, 2011

Universal Service Obligation (USO) di Indonesia

USO: Definisi dan Sejarahnya
Istilah Universal Service tercatat pertama kalinya dalam kosakata sektor telekomunikasi pada tahun 1907. Saat itu Presiden perusahaan telekomunikasi terkemuka AT&T, Theodore Vail, mempopulerkan slogan “One System, One Policy, Universal Service” dalam laporan tahunan perusahaan tersebut berturut-turut hingga tahun 1914. Para ahli sejarah dan pengambil kebijakan berpendapat bahwa konsep yang disampaikan oleh Vail tersebut mengacu kepada kebijakan untuk mempromosikan affordability jasa telepon melalui subsidi silang (Mueller Jr., 1997). Sesuai perjalanan waktu, konsep Universal Service kemudian diartikan bahwa setiap rumah tangga dalam suatu negara memiliki sambungan telepon, biasanya telepon tetap. Namun mengingat definisi di atas hanya layak untuk negara maju, maka kemudian muncul pula istilah Universal Access yang bisa dijangkau dan lebih sesuai dengan praktek-praktek di negara berkembang. Universal Access diartikan bahwa setiap orang dalam suatu kelompok masyarakat haruslah dapat melakukan akses terhadap telepon publik yang tidak harus tersedia dirumah mereka masing-masing. Universal Access ini biasanya dapat diperoleh melalui telepon umum, warung telekomunikasi atau kios sejenis, multipurpose community center, dan berbagai bentuk fasilitas sejenis (ITU, 2003). Dalam banyak literatur, kedua istilah Universal Service dan Universal Access ini kemudian sering dipakai pada saat bersamaan dan sering pula dipertukartempatkan tanpa mengubah arti masing-masing.
Sebenarnya tujuan konsep Universal Service dan Universal Access tidaklah semata-mata untuk menyediakan fasilitas telekomunikasi kepada seseorang atau kelompok masyarakat saja, tetapi adalah untuk:
a. Meningkatkan produktifitas dan pertumbuhan ekonomi
b. Mempromosikan proses kohesi sosial dan politik melalui pembauran komunitas yang terisolir dengan komunitas umum/maju
c. Meningkatkan cara dan mutu penyampaian jasa-jasa publik pemerintah
d. Memacu keseimbangan distribusi populasi
e. Menghilangkan kesenjangan sosial dan ekonomi antara information rich dan information poor.

Program USO Ditjen Postel
Menteri Perhubungan pada saat itu yaitu Bapak Agum Gumelar telah meresmikan penggunaan infrastruktur telekomunikasi yang dibangun melalui program USO dengan melakukan percakapan telepon ke berbagai lokasi seperti ke kecamatan Sumur, Pandeglang, provinsi Banten dan ke kecamatan Amarasi di Nusa Tenggara Timur (Kompas/19/1/2003). Ditjen Postel merencanakan untuk menyelesaikan pembangunan USO hingga tahun 2005, yang berarti akan dapat memenuhi target sesuai deklarasi International Telecommunication Union (ITU).
Adapun rincian target pembangunan USO telekomunikasi Ditjen Postel adalah: (a) Tahun 2003 pembangungan di 3.010 desa; (b) Tahun 2004 pembangunan di 17.000 desa; dan (c) Tahun 2005 pembangunan di 22.990 desa. Pembangunan pada tahun 2003 menggunakan teknologi Very Small Aperture Terminal (VSAT) dan Poertable Fixed Satellite (PFS). Untuk tahun-tahun berikutnya teknologi yang digunakan bisa bervariasi sesuai dengan keperluan yang diusahakan netral. Dalam salah satu kesempatan diskusi tentang infrastruktur pada awal Maret 2004 ini, saya pernah menanyakan perihal pendanaan USO tahun 2003 dan dijawab oleh Kadit Bina Telekomunikasi dan Informatika Ditjen Postel bahwa dana pembangunan berasal dari APBN 2003. Namun beliau tidak merinci lebih jauh apakah semua dari dana pembangunan atau diambilkan dari dana rutin yang sebenarnya sebahagian juga berasal dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dihasilkan oleh sektor telekomunikasi sendiri.

Perkembangan USO di Indonesia
Sebagaimana diketahui masyarakat luas bahwa Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi telah menetapkan program “Desa Berdering” dan “Desa Pinter” sebagai bagian dari program Universal Service Obligation (USO). Program “Desa Berdering” ini berupa layanan voice dan data ready yang meliputi 38.471 desa di seluruh Indonesia, yang diharapkan sudah dapat terwujud di seluruh Indonesia pada tahun 2009 ini. Program “Desa Berdering” ini merupakan bagian dari program kerja Ditjen Pos dan Telekomunikasi pada tahun 2007-2011 dengan harapan bahwa terlaksananya program tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan serta pemerataan pembangunan.


Gambar 1. Program “Desa Berdering”


Pemerintah juga berharap dapat terciptanya suatu iklim kompetisi yang sehat di bidang layanan telekomunikasi sehingga berdampak terhadap meningkatnya pelayanan dan mendorong turunnya tarif telekomunikasi serta mendorong tingkat kandungan lokal dalam negeri dalam rangka penyelenggaraan telekomunikasi. Langkah efisiensi ini diharapkan dapat mendukung percepatan pembangunan masyarakat informasi di daerah perdesaan, utamanya pada daerah terpencil dan terisolasi. Selain program Desa Berdering tersebut, terdapat pula program Desa Punya Internet (Desa Pinter). Melalui Desa Pinter yang diharapkan terwujud sebelum tahun 2015 yang dilakukan dengan cara mengimplementasikan pelayanan akses informasi di seluruh kecamatan. Melalui program tersebut, pemerintah berharap bahwa pada tahun 2025 dapat terwujud masyarakat informasi melalui penyelenggaraan pemusatan pelatihan, pemanfaatan akses informasi, dan penyelenggaraan TV broadcast yang berbasis pada kebutuhan masyarakat dan pelayanan informasi lainnya.
Program yang lebih dikenal dengan desa pinter ini merupakan proyek pengadaan layanan internet di 5.748 Kecamatan yang sudah ditentukan sebelumnya. Sentra-sentra internet desa yang akan dibangun, ditempatkan di lokasi yang strategis di setiap kecamatan, sehingga mudah diakses dan berada dekat dengan lembaga pemerintahan, pendidikan, dan lembaga lain.
Layanan akses internet USO ini nantinya akan dimanfaatkan sebagai tempat pengenalan internet dan komputer, untuk meningkat produktivitas dan peningkatan ekonomi daerah, semisal kursus, pelatihan, tempat praktek bagi murid-murid yang sekolahnya belum memiliki lab komputer, dan lain-lain.

Gambar 2. Program “Desa Pinter”


Terkait dengan era informasi, maka upaya Pemerintah untuk memberi layanan di bidang telekomunikasi bagi masyarakat adalah bahwa sampai tahun 2015 diharapkan seluruh desa di Indonesia akan mendapat layanan internet. Untuk itu diperlukan publik edukasi untuk menggunakan internet secara produktif. Untuk itu pemerintah juga siap memberikan insentif bagi pemenang USO, diantaranya adalah pemberian ijin bagi pemenang USO untuk dapat menggunakan Wimax di area-area terpencil. Program USO jangka pendek ini bertujuan bagi terwujudnya desa berdering pada tahun 2009 yang mencakup 38.471 desa di seluruh Indonesia. Sedangkan untuk program jangka menengah adalah terwujudnya desa berbasis internet (desa pintar) pada tahun 2015 dengan mengimplementasikan pelayanan akses informasi di seluruh kecamatan. Untuk program jangka panjang, diharapkan terwujudnya masyarakat informasi (information society) pada tahun 2025 melalui penyelenggaraan pemusatan pelatihan, pemanfaatan akses informasi, penyelenggaraan TV broadcast (aggregated broadcast) berbasis kebutuhan masyarakat dan pelayanan informasi lainnya. Sebagai informasi, table 1 menggambarkan data tahun dan kegiatan berdasarkan periodisasi sesuai tahapan program USO. Yang dimaksud dengan periode fisik adalah pembangunan infrastruktur layanan telekomunikasi dan informatika perdesaan dengan tidak memperhitungkan sebagai periode layanan. Ini berbeda dengan periode layanan yang berupa penyediaan/ pengoperasian jasa akses telekomunikasi dan informatika perdesaan setelah dilakukann uji fungsi terhadap kesiapan infrastruktur layanan.



Adapun skema untuk implementasi program USO adalah :
a. Dana USO berasal dari 0.75% pendapatan kotor operator telekomunikasi di Indonesia.
b. Berbasis dukungan pembiayaan terendah (the least cost subsidy) atas kontrak layanan (service-based contract).
c. Asset menjadi milik/dikelola oleh operator.
d. Menggunakan teknologi netral
e. Penyediaan untuk 5 tahun (multi years).
f. Pengoperasian dan pemeliharaan merupakan bagian integral dari kontrak.
g. Resiko pengelolaan pada operator.
Data tentang jumlah desa yang akan mendapat program USO untuk pengadaan telepon perdesaan akan berkurang dari 38 ribu desa menjadi 31 ribu desa. Hal ini disebabkan karena sudah beberapa desa yang dibangun akses oleh operator telekomunikasi. Pemerintah melalui Balai Telekomunikasi Informasi Pedesaan (BTIP) yang menentukan pemenang tender berharap pembangunan bisa segera dilaksanakan mengingat telah banyak kehilangan waktu akibat masalah hukum sebelumnya. Dalam tender pengadaan perangkat telepon melalui program USO ini, yang diuntungkan ialah masyarakat pedesaan sendiri. Apabila perangkat sudah terinstal, masyarakat sebagai pengguna akan dapat merasakan manfaatnya. Terkait dengan kontribusi USO pada tahun 2009, melalui Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang diberlakukan Depkominfo mengalami perubahan dari semula 0,75% menjadi 1,25% terhitung berdasarkan pendapatan kotor penyelenggaraan telekomunikasi.
Percepatan pelaksanaan program USO diharapkan agar masyarakat perdesaan segera dapat menikmati fasilitas layanan telekomunikasi sehingga diperlukan mobilitas dan sumber daya yang sangat besar. Karena Depkominfo tidak ingin mempertaruhkan kepentingan masyarakat, maka yang berhak ikut tender hanya perusahaan jaringan telekomunikasi yang sudah berpengalaman. Pengubahan persyaratan tender USO lainnya yaitu teknologi telekomunikasi digunakan nantinya tidak berbasis "circuit switch" tetapi menggunakan teknologi telekomunikasi terkini (NGN/Next Generation Network) yang memungkinkan tidak hanya untuk percakapan telepon (voice) tetapi juga untuk akses internet. Pemerintah juga mengubah 11 paket pengerjaan untuk 11 Blok WPUT (Wilayah Pelayanan Universal Telekomunikasi) pada tender USO sebelumnya menjadi tujuh paket pekerjaan untuk 11 blok WPUT. Pemerintah juga membatasi perusahaan yang ikut tender mempunyai kepemilikan saham asing diluar portofolio dibatasi kurang atau sama dengan 49 persen.


Gambar 3. Pembagian Blok WPUT



Implementasi USO di Indonesia
Setelah melalui proses tender yang panjang mulai tahun 2007 akhirnya ditetapkan 2 pemenang Tender untuk penyelenggara USO program Desa Berdering dengan pembagian sebagai berikut :



Untuk program Desa Berdering, PT Telkomsel sebagai pemenang paket 1,2,3,6 dan 7 telah berhasilkan menyelesaikan project ini sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan pemerintah. Sedangkan untuk PT Indonesia Comnet Plus yang akhirnya menjadi pemenang paket 4 dan 5 di tahun 2010 masih sedang dalam pembangunan infrastruktur.
Disamping itu untuk program Desa Pinter melalui siaran pers yang diumumkan Jumat 12 Maret 2010 malam, Kemkominfo Telah memilih empat perusahaan dari enam peserta yang berhak mengajukan sampul di tahap kedua tender yaitu :
1. Telkom terpilih sebagai pelaksana paket pekerjaan 1, 10, dan 11, yang meliputi wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
2. Sementara Aplikanusa Lintas Arta, mendapatkan paket pekerjaan 7,8, dan 9, meliputi daerah Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku, Maluku Utara, Irian Jaya Barat, serta Papua.
3. Adapun Jastrindo Dinamika, memenangkan tender kemitraan untuk paket pekerjaan 2,3, dan 6 meliputi wilayah Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, dan Jawa Timur.
4. Sarana Insan Muda Selaras, memenangkan tender untuk paket pekerjaan Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Para pemenang tender tersebut harus menyelesaikan program tersebut dalam waktu enam bulan setelah penandatangan kontrak kecuali untuk paket 9 yang mempunyai tingkat kesulitan geografis yang tinggi. Sehingga diharapkan paling lambat 6 November 2010 semua paket tersebut telah diselesaikan dan didapat digunakan oleh masyarakan pedesaan untuk mengakses internet.
Dengan selesainya program Desa Berdering dan Desa Pinter diharapkan akan dapat meningkatkan pengetahuan, taraf hidup masyarakat pedesaan dan akan mempemudah pemerintah untuk mengimplementasikan e-governmet sampai ke pedesaan. Siswa-siswa didesa pedalaman diharapkan tidak akan terlalu jauh lagi mempunyai perbedaan pengetahuan dengan teman-teman mereka di kota yang memiliki akses informasi yang lebih luas. Disamping aparat pemerintahan di desa pun akan bisa mengakses dan berbagi berbagai macam informasi dengan pemeritah di kabupaten, propinsi ataupun pusat.

Written By Madces from some resources

Friday, December 31, 2010

Resolusi 2011

Tak terasa hari ini adalah hari teakhir di 2010 and besok adalah hari pertama di tahun 2011. Berikut ini adalah resolusiku 2011 :

1. Menjadi Orang yang lebih Beriman lagi
2. Menjadi Anak yang lebih baik lagi kepada orang tua
3. Menjadi Kepala keluarga yang lebih baik lagi
4. Menjadi Karyawan yang lebih baik lagi
5. Melakukan the right things
6. Lebih banyak menulis lagi tentang Telekomunikasi, Management & Economic
7. Liburan ke XXXXXXXX With Family
8. Menjadi Mahasiswa yang lebih baik lagi

Selamat tahun baru 2011 & semoga kita bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dimasa yang akan datang ....

The best way to predict the future is to create it

Sunday, December 26, 2010

Faktor Yang Mempengaruhi Pelanggan Memilih Produk Operator Selular

Pertumbuhan pelanggan selular di Indonesia sangatlah pesat dengan perkiraan jumlah pelanggan seluler di akhir tahun 2010 sudah mencapai 180 juta pelanggan atau hampir mencapai 80% dari total penduduk Indonesia. Selaras dengan hal tersebut, persaingan operator seluler di Indonesia pun sangatlah ketat, ini ditandai dengan banyaknya jumlah operator seluler di indonesia yang mencapai 11 operator seluler baik berbasis GSM dan CDMA2000. Jumlah operator seluler di Indonesia yang mencapai 11 adalah yang terbesar di dunia dibandingkan dengan India yang memiliki enam operator, Malaysia mempunyai tiga, sedangkan China hanya dua operator.

Dengan sangat ketatnya persaingan tersebut, operator harus bisa mengindentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi buying preference pelanggan. Menurut pengamatan penulis, faktor-faktor yang mempengaruhi pelanggan memilih suatu operator adalah sebagai berikut :

• Network Coverage (Jangkauan Jaringan)
Network coverage adalah syarat mutlak dari suatu operator seluler untuk memberikan pelayanan ke pelanggan mereka, tanpa adanya network coverage maka pelanggannya tidak akan mendapatkan sinyal di handphone mereka sehingga handphone tidak bisa digunakan. Untuk bisa mempunyai network coverage didaerah tertentu maka operator harus memasang perangkat bernama Base transceiver station (BTS) untuk 2G ataupun Node-B untuk network 3G. Hal ini yang menjadi salah satu competetive advantage dari operator incumbent karena apabila kita analisa dari Porter Five Forces Analysis maka ini menjadi threat of the entry of new competitors.

• Harga (Price)
Ketika semua operator sudah mempunyai network infrastructure yang sudah mature terutama didaerah perkotaan, yang mana semua operator sudah mempunyai coverage yang hampir sama maka faktor berikutnya yang sangat berpengaruh adalah masalah harga. Hal ini dapat dilihat dari trend revenue dan ARPU semua operator yang cenderung menurun yang disebabkan mereka berlomba untuk memberikan tariff murah untuk mendapatkan pelanggan. Untuk kondisi sekarang ini, elastis harga tinggi sehingga akan sangat berpengaruh dengan pertumbuhan pelanggan baru terutama di kota besar seperti Jakarta. Ketika suatu operator menawarkan tariff yang murah maka jumlah pelanggan mereka akan bertambah signifikan namun disamping itu yang menjadi masalah adalah biaya cost yang dikeluarkan, sehingga rata-rata operator hanya menawarkan tariff murah untuk sementara dalam rangka mendapatkan pelanggan baru dan beberapa lama kemudian akan menaikkan harga lagi dengan harapan pelanggan baru tersebut akan loyal menjadi pelanggan mereka.

• Kualitas Jaringan
Kualitas jaringan adalah faktor berikutnya yang sangat berpengaruh terhadap pelanggan untuk memilih suatu operator dimana ketika harga yang diberikan oleh semua operator sudah hampir sama maka yang menjadi acuan pelanggan untuk tetap menggunakan produk suatu operator adalah kualitas jaringan. Kualitas jaringan disini adalah pelanggan bisa menggunakan layanan seluler dimana saja dengan mudah melakukan panggilan (Call Success Rate), panggilan tidak terputus selama koneksi (Call Completion Rate) dan mempunyai kualitas suara yang bagus (suara tidak terputus-putus) untuk service suara.
Sedangkan untuk service data (wireless broadband service) adalah kemudahan melakukan koneksi (Data connection success rate), koneksi data tidak terputus selama pemakaian (Data Completion rate), low latency dengan throughput yang tinggi dengan minimal diatas 256 Kbps.
Disamping untuk meningkatkan nilai saing dengan operator lain, operator seluler juga harus menjaga batas minimal kualitas jaringan mereka untuk tetap comply dengan Peraturan Menteri Kominfo No.12 tahun 2008.

• Value Added Services (Differentiated Services)
Value Added Services adalah suatu service atau feature tambahan yang diberikan oleh suatu operator dalam rangka meningkatkan nilai jual mereka kepada pelanggan dan juga meningkatkan revenue. VAS adalah new service yang di harapkan dapat mengextract consumer surplus, yang mana dengan terjadinya perang tariff akan mengakibatkan penurunan harga dibasic services sehingga pelanggan yang sebelumnya punya budget 100 ribu perbulan maka mereka hanya membelanjakan setengahnya karena penurunan harga tersebut dan mereka willing untuk menghabiskan budgetnya tersebut sehingga diharapkan Value Added Services akan bisa mengambil consumer surplus tersebut.

• Layanan purna jual
Layanan purna jual juga menjadi salah satu faktor pendukung yang membuat pelanggan memilih operator selular tertentu. Hal ini tidak hanya terjadi di Industri telekomunikasi seluler tapi hampir disemua industry lainnya. Untuk pelayanan purna jual di industry telekomunikasi biasanya diwakili dari Customer Service dan call centernya. Operator yang bisa memberikan layanan purna jual yang baik pastinya akan meningkatkan customer loyalty. Dengan peningkatan customer loyalty akan meningkatkan revenue perusahaan dan menurunkan biaya acquisition pelanggan baru yang mana biaya acquisition pelanggan baru bisa lima kali dari biaya mempertahankan existing customer.

• Teknologi
Teknologi yang paling muktahir yang diimplementasikan oleh suatu operator seluler juga merupakan daya tarik bagi pelanggan untuk memilih suatu operator. Karena dengan menggunakan teknologi mutakhir maka operator tersebut bisa menawarkan tambahan service atau feature yang tidak dimiliki operator lain. Sebuah operator yang sudah mengimplementasikan Network 3G akan mempunyai nilai jual yang lebih tinggi dimata pelanggan dibandingkan operator yang baru menggunakan network 2G. Keunggulan utama dari latest technology di telekomunikasi seluler adalah dengan semakin cepatnya akses data services melalui jaringan seluler yang sudah mencapai kecepatan download 42 Mbps dengan teknologi HSPA.

• Image perusahaan
Yang menjadi alasan lainnya seorang pelanggan memilih suatu operator adalah karena image perusahaan tersebut di masyarakat. Semakin baik image perusahaan tersebut maka kemungkinan besar pelanggan untuk menggunakan product perusahaan tersebut sangat tinggi pula. Advertising yang berkelanjutan adalah salah satu cara meningkatkan image perusahaan dan tentunya didukung quality yang bagus karena pelanggan yang puas menggunakan suatu product kemungkinan besar akan menginformasikan kepada teman atau keluarganya yang lain (word of mouth).

Ditulis oleh Madces